4.1.15

Kisah Pembersih Lantai di RSUD Sultan Iskandar

Metrotvnews.com - Dengan sigap tiga orang wanita berlari ke lorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Iskandar, Pangkalan Bun. Tiga wanita tersebut kompak mengenakan kain yang menutupi hidung hingga mulutnya.

Tanpa dikomando, ketiganya kemudian membersihkan air yang menetes dari delapan kantong jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501, yang dibawa menuju ruangan tim Disaster Victim Identification (DVI) di Rumah Sakit Sultan Imanuddin.

Hanya dengan menggunakan pipa paralon dan kain sebagai ganti kain pel, ketiganya membersihkan lantai rumah sakit tersebut. Sesekali petugas kebersihan tersebut Sarinah, mengusap keringat yang hampir menetes ke lantai, dengan tangan kirinya.

Perempuan 23 tahun ini bekerja sejak 2012, sedianya dia bekerja sebagai pembersih area taman di rumah sakit. Delapan jam dalam sehari dia habiskan membersihkan taman dan lorong di rumah sakit. Sejak tanggal 1 Januari kemarin, Sarinah dan rekan lainnya mendapatkan pekerjaan tambahan.

"Sejak tanggal 1 kemarin mulai ini. Enggak tega saja, kayak lihat jenazah kecil waktu kemarin itu kayak lihat anak sendiri. Jenazah masuk dulu saya baru berani ngepel," kata Sarinah saat berbincang dengan Metrotvnews.com di RSUD Sultan Imanuddin, Jalan Sutan Syahrir, Kotawaringin Barat, Sabtu (3/1/2015).

Pihak rumah sakit memang menganjurkan penggunaan sarung tangan untuk melakukan pembersihan, tapi Sarinah tidak menggunakannya. Alergi menjadi alasan ibu beranak satu ini, tidak menggunakan sarung tangan. Sejak hari pertama kedatangan jenazah, air memang selalu menetes ke lantai rumah sakit, dari kantong-kantong jenazah tersebut. "Biasanya air jenazah itu memang gitu, tapi lebih parah hari ini, lebih kuning gitu, baunya juga," tambah dia.

Sementara teman seprofesinya Anis Neni Yuliati (39), dengan sigap dia memeras handuk yang dijadikan kain pel dengan tangan kosong di bawah kucuran air keran, di sebuah musala. Tak ada raut khawatir dari wajah Anis saat memeras handuk bekas tetesan air yang berasal dari kantong jenazah. Dia hanya menjalankan kewajiban sebagai pembersih area taman dan lorong, dan menolong sesama.

"Kemauan sendiri, kalau gini kan kita bisa menolong, saling menolong. Dulu, orang tua enggak ada keluarga buang air besar saya tolong, apalagi ini. Kita sama-sama manusia kan sama aja, nasibnya saja yang beda," kata Anis sambil menyeruput es teh manis miliknya.

Selepas bekerja, Sarinah, Anis, dan rekan lainnya duduk di salah satu sudut lorong sembari melepas penat. Raut lelah tak terlihat di wajah mereka, Anis bahkan mengaku bekerja dengan ceria meski capek. "Kita kan kewajiban, ini kalau udah begini kita tanganin aja, walaupun capek harus kita kerjain," ucap Anis sembil melemparkan tersenyum.

Alhasil aroma tak sedap tak lagi menyeruak di lorong rumah sakit. Tak ada jejak dan bekas noda tetesan yang terlihat. Pekerja rumah sakit, pasien, dan pengujung tak lagi lewat sambil menempelkan tangan di depan hidung mereka.



0 comments:

Post a Comment

Silahkan berikan komentar sesuai dengan topik bahasan dan tidak melanggar unsur-unsur yang merugikan dan menghina. Komentar yang sifatnya spam akan dihapus.
Terimakasih sudah berkunjung dan memberikan komentar di blog Kawan Bicara.