Konflik KPK vs Polri

Ikuti perkembangan berita konflik yang terjadi antara dua institusi pemerintah yaitu KPK dan Polri (Cicak vs Buaya jilid 2) yang tengah terjadi di negeri ini

Tragedi Air Asia QZ8501

Ikuti berita-berita terbaru tentang tragedi Air Asia QZ8501 yang hilang sejak Minggu pagi (28/12/2014) lalu di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah


29.12.15

Duel MU vs Chelsea Berakhir Seri

Pertandingan matchday 19 Premier League 2015-16 mempertemukan Manchester United melawan Chelsea. Pertandingan ini digelar di kandang Manchester United Old Trafford pada hari Selasa (29/12).

Sama-sama berada dalam situasi sulit, kedua tim langsung tampil terbuka dan saling menyerang. Laga baru berjalan tiga menit, Juan Mata sudah melepas tembakan yang hanya menghajar mistar gawang Chelsea.

Saat laga berjalan tiga menit, gawang Chelsea langsung mendapat ancaman. Bola yang ditendang Juan Mata membentur mistar dan kepanikan sempat tersirat di wajah para pemain The Blues.

Dua menit kemudian, giliran MU yang menerima ancaman. Berawal dari sepak pojok, bola kemudian disundul John Terry dan nyaris merobek gawang tuan rumah. Untungnya David De Gea memiliki refleks yang bagus. Kiper kebangsaan Spanyol itu berhasil menyelamatkan gawang MU dari kebobolan.

Chelsea juga menunjukkan agresivitas mereka lewat bola mati. Berawal dari tendangan sudut Willian, John Terry menanduk bola ke gawang tetapi David De Gea masih sangat sigap menepis bola ke atas gawang.

United yang bertindak sebagai tuan rumah lebih banyak mengambil kendali permainan. Mereka juga sukses menciptakan lebih banyak peluang. Anthony Martial melepas tembakan yang kembali menghajar tiang.

MU terus mengendalikan alur permainan. Tapi dewi keberuntungan belum berpihak pada kubu Setan Merah. Buktinya di menit 15 tiang gawang kembali menggagalkan peluang tuan rumah. Tiang sebelah kanan berhasil menjauhkan bola yang disepak Anthony Martial.

Sebelum turun minum, MU mendapat kesempatan lagi. Chelsea yang lebih banyak ditekan hanya menunggu serangan balik yang cukup merepotkan Daley Blind dan kawan-kawan.

Setelah laga berjalan melewati setengah jam, permainan menjadi lebih keras. Wasit Martin Atkinson pun harus mengeluarkan beberapa kartu merah untuk mengendalikan jalannya pertandingan. Namun hingga babak pertama usai, skor tanpa gol tetap bertahan.

Pada awal babak kedua, tensi pertandingan meningkat. Kedua tim meningkatkan intensitas serangan mereka masing-masing dan laga pun sempat berjalan end to end. Tiga menit babak kedua berjalan, De Gea dipaksa melakukan penyelamatan ganda untuk menghadang tembakan Pedro dan Azpilicueta.

Di menit 55, Courtois melakukan penyelamatan yang tidak kalah hebat. Kiper kebangsaan Belgia itu menggagalkan peluang emas yang lahir dari kaki Ander Herrera.

Chelsea mulai keluar dari tekanan. Sayangnya semua usaha yang mereka lakukan gagal berbuah menjadi gol. Begitupun dengan MU yang harus puas menelan hasil imbang di markasnya sendiri.

Kedudukan sama kuat mengakhiri pertandingan Manchester United kontra Chelsea. Tampil di Old Trafford Stadium, Selasa (29/12/2015) dini hari WIB, kedua tim harus puas bermain imbang tanpa gol.

Bagi kedua tim, hasil pertandingan ini menambah panjang catatan buruk di musim 2015/2016. MU yang belum pernah menang di delapan pertandingan terakhirnya, duduk di posisi enam dengan raihan 30 poin. Sedangkan Chelsea, mereka tertahan di urutan 14 dengan perolehan 20 poin.

Susunan Pemain Manchester United: De Gea; Darmian (Borthwick-Jackson, 70'), Smalling, Blind (Jones, 82'), Young; Schneiderlin, Schweinsteiger; Mata (Memphis, 76'), Herrera, Martial; Rooney.

Susunan Pemain Chelsea: Courtois; Ivanovic, Zouma, Terry, Azpilicueta; Matic, Mikel; Pedro, Oscar (Loftus-Cheek, 90'), Willian (Ramires, 70'); Hazard.



Anggita Sari Beberkan Keburukan Tyas Mirasih

Tyas Mirasih dan Anggita Sari adalah dua artis Indonesia yang belakangan ini menjadi perbincangan dan pemberitaan media karena keduanya diduga terlibat dalam pusaran prostitusi artis. Nama keduanya disebut-sebut saat muncikari RA dibekuk dan disidang. Namun kenapa belakangan Anggita Sari mengancam akan membuka kedok Tyas Mirasih yang sebenarnya.

Cerita soal kasus prostitusi online yang melibatkan artis rupanya melebar ke mana-mana. Gara-gara kontak di media sosial (medsos) diblok pun bisa memicu pertengkaran seru, yang sayangnya, jadi santapan publik. Hubungan Anggita Sari dan Tyas Mirasih memanas gara-gara medsos

Lain Tyas lain pula Anggita. Kalau Anggita sudah tak malu-malu lagi mengakui soal keterlibatan dirinya. Bahkan kejujuran dan keterbukaannya banyak dipuji netizen. Bahkan dia didoakan semoga sukses. Sementara Tyas Mirasih tidak demikian, ia membantah terlibat dalam kasus prostitusi artis ini.

Entah apa alasannya, Tyas memilih untuk menutup pintu komunikasinya dengan mantan pacar Enji tersebut. Semua kontak telepon dan akun sosial media Anggita tak lagi bisa mengakses sosmed milik Tyas Mirasih.

Lalu mengapa kedua perempuan yang punya profesi sama ini terlibat perseteruan? Diduga awalnya Anggita Sari kesal karena akunnya diblok oleh Tyas Mirasih. Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun akan mengancam membongkar siapa sebenarnya Tyas Mirasih.

Semua berawal dari chat di media sosial. "We’ll see, @tyasmirasih gw yg dulu nutupin lo, bantuin lo, sekarang demi pencitraan lo, lo giniin gw… Get well soon deh,” begitu Anggita Sari menulis di obrolan Path yang di-screenshot dan diunggah di Instagram @anggitasariofficial91, Jumat (25/12/2015). Tampaknya Anggita amat kesal dengan Tyas.

Anehnya, dalam kolom komentar terdapat nama Obie yang diduga Robby Abbas, yang merupakan muncikari Tyas. Di situ, Obie meminta Anggita untuk menunggunya bebas dari penjara. "Tunggu aku ya, lebih seru," Obie mengomentari.

Kuasa hukum Anggita Sari dan Robby Abbas, Pieter Ell menyebut tindakan yang dilakukan Tyas menunjukkan ketakutan. Ia juga mendukung tindakan Anggita yang menyindir Tyas secara langsung.

Kasus prostitusi artis mencuat pertengahan tahun ini dengan RA yang tertangkap tangan menjajakan artisnya. Dari situ kemudian muncul berbagai inisial artis yang menjajakan diri sebagai PSK. Muncikari Robby Abbas (RA) harus meringkuk di penjara selama satu tahun ke depan. Di pengadilan ia terbukti bersalah melanggar Pasal 296 KUHP tentang Kesusilaan. Beberapa artis yang terlibat bisnis prostitusi kelas atas ini adalah Amel Alvie (AA), Tyas Mirasih (TM), dan Shinta Bachir (SB). Ketiga nama artis itu disebut oleh hakim pernah dijual RA kepada pria hidung belang.



Habib Selon Meninggal Dunia

Tokoh Front Pembela Islam Mantan Ketua Tanfidzi DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta, Habib Salim Alatas alias Habib Selon, meninggal dunia hari ini, Senin 28 Desember 2015, sekitar pukul 05.00 WIB.

Kabar duka ini datang dari akun Twitter @DPP_FPI, yang menuliskan bahwa Habib Selon meninggal dunia hari ini, Senin 28 Desember 2015, sekitar pukul 05.00 WIB. Habib Selon meninggal setelah sempat mendapat perawatan di RS Mitra Jatinegara, Jakarta Timur.

Menurut keterangan yang diperoleh dari Habib Ali bin Umar Alatas, 38, adik Habib Selon, mengatakan kakaknya meninggal dunia karena beliau menderita sakit jantung. "Beliau sakit jantung" kata Habib Ali di rumah duka, Jalan Lapangan Ros, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (28/12/2015).

Kediaman duka berada di Kampung Sawo Kecik Lapangan Ros, belakang Masjid Al-Ma'mur Rt 06/06 No 31 A Bukit Duri Tebet Jakarta Timur. "Akan dimakamkan di pemakaman Karet Bivak ba'da Ashar," demikian informasi yang diberitakan pengurus FPI.

Habib selon meninggal pada usia 46 tahun dan meninggalkan empat putri. Semasa hidupnya, Almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidzi DPD FPI DKI Jakarta. Saat ini Almarhum menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Dakwah DPP FPI.



24.1.15

Menkopolhukam : Pendukung KPK Rakyat Nggak Jelas

Para Komisioner KPK mengajak rakyat untuk terus menjaga lembaga itu dari upaya krimininalisasi. Menko Polhukam Tedjo Edhy pun menyebut pendukung KPK tidak mewakili rakyat Indonesia.

"Jangan membakar massa, mengajak rakyat, membakar rakyat. Ayo kita ini, tidak boleh seperti itu, itu suatu sikap pernyataan yang kekanak kanakan. Berdiri sendiri, kuat dia. Konstitusi yang akan dukung, bukan dukungan rakyat yang nggak jelas itu," sindir Tedjo keras di Istana Kepresidenan, Sabtu (24/1/2015).


Tedjo mengaku kecewa dengan sikap para pimpinan KPK. Dia menilai para pimpinan KPK tidak berusaha untuk menenangkan situasi.

"Harus menjernihkan suasana, tetapi kelihatannya tidak ditaati sehinga semalam masih ada pergerakan-pergerakan dari KPK, sebenarnya tidak boleh ada pergerakan massa," lanjut Tedjo.

"Jangan membuat statemen yang membuat panas, tetapi pergerakan massa masih ada, tetapi ternyata tadi malam masih ada, ini yang kita sesalkan," tutupnya.

Salah satu yang mungkin dimaksud Tedjo adalah pernyataan Ketua KPK Abraham Samad. Dia berorasi kepada ratusan relawan yang berkumpul di depan Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, tadi malam. Ia meminta masyarakat menjaga gedung tersebut. Apalagi di dalam gedung itu banyak dokumen berharga.

"Saya meminta Saudara-saudara menjaga gedung ini dari berbagai upaya melemahkan KPK," kata Samad di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2015) pukul 20.50 WIB.



Masyarakat Dukung KPK karena Sikap Presiden Normatif dan DPR Diam

Satu per satu Wakil Ketua KPK dilaporkan ke polisi, setelah Bambang Widjojanto, kemudian Adnan Pandu Praja. Bambang bahkan sudah menjadi tersangka. Presiden Jokowi, dinilai hanya bersikap normatif. DPR dinilai tak bergerak. Maka siapa lagikah yang membela KPK?

"Presiden normatif, DPR tidak bersikap. Dengan demikian, masyarakat pasti akan membuat sikap sendiri," jelas peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gajah Mada (UGM) Oce Madril saat berbincang, Sabtu (24/1/2015).


Oce menambahkan, masyarakat yang bergerak karena lembaga eksekutif dan legislatif yang tak memenuhi harapan itu ada di berbagai kota. Masyarakat di berbagai kota itu bergerak dengan sukarela.

"Ada bola salju di kota-kota lain. Tentu ini akan mengganggu jalannya pemerintahan, kemudian juga kredibilitas dipertanyakan, masyarakat berada di suasana, ibaratnya masyarakat kehilangan pemimpinnya. Harus bergerak sendiri," tutur Oce.

Pasalnya, di kalangan masyarakat, melihat apa yang menimpa pejabat KPK seperti pola yang berulang. Bila terjadi berulang-ulang, maka kriminalisasi ini akan berujung mengganggu pemberantasan korupsi.

"Masyarakatlah yang berdiri di berbagai kota mendukung KPK. Kami di masyarakat dukung mati-matian untuk KPK. Kasus BW itu pola berulang, tidak sekali ini terjadi. Kalau ini dibiarkan maka pasti akan terjadi lagi pola-pola seperti ini, itu yang selama ini mengganggu pemberantasan korupsi," tegas Oce.

Bila Presiden Jokowi tak tegas dalam menengahi KPK-Polri, siapa yang akan diuntungkan?

"Pastinya para tersangka korupsi, orang-orang yang selama ini nyaman dengan situasi koruptif, mungkin juga kekuatan-kekuatan pro koruptor akan sangat nyaman ketika KPK diganggu. Tidak ada yang membela mempertahankan, mereka bersorak sorai," jawab dia.



3 Kejanggalan di Kasus Bambang Widjojanto

Beberapa kejanggalan terkuak dalam proses jalannya kasus penetapan tersangka Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Mabes Polri. Bareskrim melakukan beberapa kesalahan administratif dalam proses penanganan kasus ini.

"Saat diperiksa, saya mulai merasa bahwa surat penangkapan terhadap saya pada saat itu dengan yang ditunjukkan di Bareskrim beda, saya bilang " kok ini beda ni?", bedanya itu mengenai alamatnya, waktu diperlihatkan di Ceria Mart dengan yang saya baca itu beda, terutama mengenai wilayahnya terutama ada kecamatannya itu. Wah ini saya merasa ada yang tidak benar jadi saya mulai mempersoalkan itu," kata Bambang saat berbincang, Sabtu (24/1/2015).


Selain itu, kejanggalan juga terlihat dari pasal yang disangkakan kepada Bambang. Penyidik hanya menuliskan Bambang disangkakan dengan Pasal 242 Jo Pasal 55 tanpa dituliskan ayat berapa yang disangkakan.

"Saya mohon dijelaskan dulu ini, coba jelasin pasal yang disangkakan dan menurut saya penjelasannya kurang lengkap. Saya keberatan untuk menjawab yang lain-lain, jadi 8 pertanyaan yang lain itu terkunci di situ. Saya minta klarifikasi pasal berapa dari 242 ini, ayat 1 atau 2 atau 3 yang pasal 55 juga begitu, kalau tidak bisa mnjelaskan saya tidak mau diperiksa," jelas Bambang.

"Saya kasih argumennya kenapa saya tolak, 1. Tidak jelas pasal yang disangkakann 2. Kesalahan pada penulisan alamat 3. Saya merasa terteror dan BAP penangkapan saya itu tidak memuat detail, saya tidak mau," tegas Bambang.



BW: Ini Upaya Sistematis untuk Hancurkan KPK

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dengan tegas mengatakan, apa yang dialaminya Jumat (23/1/2015) kemarin, bukan pelemahan KPK. Bahkan dia menilai, hal itu merupakan penghancuran KPK.

"Mungkin harus dinaikkan satu level. Ini pelemahan atau penghancuran. Kalau saya melihatnya ada upaya sistematis untuk menghancurkan KPK," ujar Bambang di kediamannya Jl Kampung Lio, Kampung Bojong Lio, Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, (24/01/2015).


Bambang telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus menyuruh saksi untuk bersumpah palsu dalam kasus sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah di MK pada 2010 lalu. Saat itu, Bambang merupakan pengacara. Sedangkan Bambang menjadi pimpinan KPK pada 2012.

Bambang ditangkap tim Bareskrim dengan bantuan pihak Kapolsek Sukmajaya Kompol Agus Widodo, setelah mengantar anaknya, Taqi, murid SDIT Nurul Fikri, pada Jumat (23/1/2015). Kemudian penahanan Bambang ditangguhkan setelah Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain bertemu Wakapolri Badrodin Haiti dan Kabareskrim Polri Komjen Budi Waseso. Bambang dibebaskan dari Mabes Polri sekitar pukul 01.30 WIB. Setelah ke KPK, Bambang tiba di rumahnya sekitar pukul 04.00 WIB.

Selain Bambang, pimpinan KPK lainnya yakni Abraham Samad juga terkena serangan. Abraham terkena foto palsu bersama Putri Indonesia 2014 Elvira Devinamira. Kemudian Samad juga terkena serangan plt Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menungkapkan Samad kecewa tidak menjadi cawapres Jokowi karena Budi Gunawan. Atas serangan ini, Samad sudah membantahnya.

Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja juga terkena peluru. Dia dituduh seorang pengacara ke Bareskrim telah merampok saham. Atas tuduhan ini, Pandu belum memberikan pernyataan.



BW Mempertimbangkan Mundur Sebagai Pimpinan KPK

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditetapkan Polri sebagai tersangka. Bambang akan mengajukan pemberhentian sementara sebagai pimpinan KPK.

"Saya mempertimbangkan untuk mengajukan pemberhentian sebagai pimpinan KPK sehingga nanti pimpinan KPK yang mempertimbangkan itu dan mengajukannya kepada Presiden," kata Bambang kepada wartawan di kediamannya di Depok, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2015) siang.


Dijelaskan Bambang, dirinya punya alasan tersendiri dengan memilih mundur sementara sebagai pimpinan KPK. Ia ingin menjalani proses hukumnya dengan fokus.

"Itu dari saya, dari personal saya. Saya harus tunjukkan seorang tersangka itu jangan secara etik moral harus bertindak begitu, minta ajukan pengunduran diri," ucap Bambang.

"Soal hukum lainnya saya akan serahkan ke tim lawyer saja. Saya simple saja, ingin bekerja secara optimal sesuai dengan proses yang sekarang terjadi dengan waktu yang semakin terbatas," imbuh Bambang.



Komitmen Pemberantasan Korupsi Jokowi Diuji

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri. Padahal KPK tengah bekerja keras mempercepat penanganan sejumlah perkara, termasuk kasus dugaan rekening gendut Komjen Budi Gunawan. Keberpihakan Jokowi kini diuji.

Meski ditetapkan sebagai tersangka, Bambang masih tetap berstatus sebagai pimpinan KPK. Status BW menjadi nonaktif atau diberhentikan sementara apabila Presiden Jokowi mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres). Hal itu sesuai dengan Pasal 32 ayat 3 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.


Karena itu, keberpihakan Jokowi kini diuji. Keberpihakan yang dimaksud tentunya keberpihakan Presiden terhadap komitmen pemberantasan korupsi yang selalu disuarakannya dalam Pilpres 2014 lalu.

"Pemberhentian sementara (Bambang menjadi pimpinan KPK-red) itu secara hukum akan terjadi jika Presiden Jokowi mengeluarkan Keputusan Presiden. Ini justru akan kita lihat bagaimana sikap Presiden Jokowi." Demikian kata Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Denny Indrayana.

Pendapat itu disampaikan Denny saat menyambut pembebasan Bambang di gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Sabtu (24/1/2015) pukul 02.20 WIB. Denny mengaku pendapatnya itu juga sesuai dengan pendapat Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas Prof Saldi Isra.

Denny, dan banyak pihak lainnya menilai, penetapan Bambang sebagai tersangka berbau upaya pelemahan terhadap KPK. Apalagi KPK kini tengah bekerja keras mempercepat penanganan berbagai kasus korupsi, termasuk dugaan korupsi yang dilakukan Komjen Budi. Jika Jokowi mengeluarkan Keppres, maka Bambang otomatis diberhentikan sementara dari pimpinan KPK.

"Karena itu ini kesempatan beliau (Jokowi) untuk menunjukkan dukungannya terhadap agenda pemberantasan korupsi, dukungan terhadap KPK. Selama Keppres belum keluar, maka status Bambang tetap pimpinan KPK. Kalau saya melihat, ini adalah kasus yang terkait kriminalisasi KPK. Ini adalah serangan balik terhadap KPK, maka presiden Jokowi tentu harus dengan hati-hati, harus dengan jeli melihat," ucap Denny mewanti-wanti.

Selain itu, Prof Saldi Isra menegaskan, KPK hanya bisa kembali bekerja normal melakukan pemberantasan korupsi bila kasus Bambang di-SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan-red). Selama kasus yang disebut Saldi dan banyak pihak lainnya berbau rekayasa itu diteruskan, KPK tak akan bisa berjalan normal.

Pendapat senada juga datang dari Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun juga mengatakan hal senada. Dikaitkan dengan masa jabatan pimpinan KPK yang saat ini hanya sampai Desember nanti, bisa dipastikan tamatlah riwayat sang komisioner KPK bila tidak dilakukan tindakan untuk mengeluarkan SP3.

Pimpinan KPK saat ini yang tersisa tinggal empat orang setelah Busyro Muqoddas habis masa jabatannya dan belum dipilih penggantinya. Dengan status tersangka Bambang, andai dikeluarkan Keppres pemberhentian sementara, jumlah pimpinan tinggal tiga orang.

"Satu orang lagi saja pimpinan KPK dijadikan tersangka, KPK lumpuh. Proses hukum terhadap mereka yang sudah dijadikan tersangka terancam tidak bisa lanjut karena keputusan KPK bersifat kolektif kolegial," ucap Refly.

Terkait kasus ini, banyak juga pihak yang bersuara lantang terhadap Polri. Salah satunya malah datang dari Mantan Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno yang menilai penangkapan dan penetapan tersangka Bambang oleh Bareskrim Polri cacat hukum. Oegroseno menyarankan sebaiknya Kabareskrim Irjen (Pol) Budi Waseso, plus calon Kapolri Komjen (Pol) Budi Gunawan dinonaktifkan karena dinilainya sebagai penyakit di tubuh Polri.

Oegroseno bahkan sangat marah atas sikap Kabareskrim Irjen Budi Waseso yang dinilainya lancang karena melakukan penangkapan Bambang Widjojanto tanpa prosedur yang benar. Bahkan katanya, jika saja ia masih menjabat Wakapolri, ia akan menempeleng juniornya itu. Dirinya juga menyarankan agar Irjen Budi Waseso dipecat saja.

Demi mengakhiri silang-sengkarut akibat pencalonan Budi Gunawan, lanjut Oegroseno, Jokowi sebaiknya mengeluarkan dekrit presiden untuk menjaring calon kapolri baru. Penjaringan bisa dilakukan oleh sebuah tim dan hasilnya diserahkan Presiden. Pastinya, Presiden harus meminta masukan KPK, PPATK, dan Kompolnas. Jangan sampai calon Kapolri punya rekening gendut mencurigakan.



Jokowi Panggil Wakapolri Badrodin Haiti



Aktivitas istana di akhir pekan ini ‎belum juga reda. Wakapolri Komjen Badrodin Haiti pun tiba-tiba dipanggil Presiden Joko Widodo merapat ke Istana.

Kenapa disebut tiba-tiba, karena dari agenda resmi yang didapat, tidak ada nama Badrodin untuk bertemu dengan Jokowi. Dia hanya dijadwalkan menerima salah satu media nasional untuk wawancara, Sabtu (24/1/2015).


Badrodin diketahui tiba di istana sekitar pukul 11.40 WIB dengan mobil dinas Wakapolri. Tanpa ada komentar, dia memilih langsung masuk ke dalam Kompleks istana menemui sang presiden.

Belum diketahui apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Namun kuat dugaan tidak bakal jauh-jauh dari kisruh Polri vs KPK yang belum berakhir meski Bambang Widjojanto sudah dibebaskan dari Bareskrim Mabes Polri subuh tadi.

Berturut-turut yang datang setelah itu adalah Menkum HAM, Menko Polhukam dan Jaksa Agung. Hingga saat ini mereka masih menggelar pertemuan tertutup.



Kronologi Penangkapan Bambang Widjojanto Hingga Bebas

Jumat (23/1) pagi, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap oleh Bareskrim Polri saat mengantar anaknya sekolah di Depok, Jawa Barat. Sontak peristiwa mengejutkan ini langsung menarik perhatian masyarakat yang menduga penangkapan itu ada kaitannya dengan penetapan status tersangka calon Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan oleh KPK.


Berikut kronologi penangkapan Bambang

Pukul 07.30 WIB, Bambang baru saja selesai mengantar anaknya ke sekolah di SD IT Nurul Fikri, Depok. Saat itu dia menggunakan mobil Isuzu Panther bersama putrinya Izzati.

Kapolsek Sukmajaya Depok ada di lokasi melakukan pengaturan lalu lintas dan meminta mobil Bambang menepi. Tak lama, 15 penyidik datang dan langsung menunjukkan surat penahanan. Bambang yang bergamis dan berpeci haji berdebat dengan penyidik.

Akhirnya Bambang dibawa dengan tangan diborgol. Dia sempat hendak diborgol di belakang, tapi dia meminta diborgol di depan.

Putrinya Izzati pun ikut di dalam mobil yang membawa ke Bareskrim Polri. Di dalam Bambang pun sempat dibentak penyidik dengan ancaman akan dilakban mulutnya. Bambang di dalam mobil pun bahkan sambil memangku anaknya.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Bambang sudah berada di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan. Saat itu penyidik Mabes Polri hendak memulai pemeriksaan dan mengajukan beberapa pertanyaan, namun Bambang menolak dengan alasan beklum didampingi oleh kuasa hukum.

Usai salat Jumat, Bambang masih berada di Mabes Polri. Di saat itu pula, Gedung KPK sudai dipenuhi oleh para tokoh dan pegiat antikorupsi. Mereka melakukan orasi dan meminta agar Bambang segera dibebaskan.

Sore harinya, setelah salat Ashar, Bambang menjalani pemeriksaan dengan didampingi kuasa hukumnya, Usman Hamid. Selama pemeriksaan, Bambang dicecar sebanyak delapan pertanyaan. Namun saat itu Bambang lebih banyak menolak menjawab karena dia masih mempertanyakan pasal yang disangkakan ke dirinya.

"Pemeriksaan berlangsung dengan lancar. Ada sekitar 8 pertanyaan. Akan tetapi sejak pertanyaan pertama dimulai Pak BW mempertanyakan pasal yang disangkakan kepada Pak BW," kata Usman.

"Kemudian Pak BW mempertanyakan tentang kualifikasi detil pasal yang digunakan, apakah pasal 45 ayat satu, kedua atau yang ketiga," tambahnya.

Sebelum masuk waktu salat Magrib, pemeriksaan selesai. Tak lama setelah itu keluarlah surat perintah penahanan untuk Bambang. Namun Bambang menolak untuk menandatangani surat tersebut.

Sementara itu, kondisi di Gedung KPK sudah dipenuhi oleh massa yang terdiri dari pegiat antikorupsi, LSM, tokoh agama, pimpinan KPK hingga mantan pimpinan KPK. Mereka meminta agar BW segera dibebaskan.

Sekitar pukul 21.00 WIB, dikabarkan Bareskrim Polri hendak merangsek masuk ke dalam gedung KPK untuk menggeledah ruangan Bambang. Massa pun sudah bersiap untuk membuat pagar betis, namun peristiwa itu tak terjadi.

Memasuki tengah malam, dua pimpinan KPK Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain menyambangi gedung Mabes Polri. Mereka berupaya agar BW dibebaskan.

Setelah menunggu cukup lama, barulah pada Sabtu (24/1) sekitar pukul 01.30 WIB, Bambang dilepaskan oleh Bareskrim Polri. Bambang keluar didampingi oleh pengacaranya Usman Hamid.

Sekitar pukul 02.15 WIB, Bambang tiba di KPK dan menemui para pendukungnya. Barulah sekitar pukul 04.15 WIB Bambang tiba di kediamannya di Depok dan bertemu dengan keluarga.



Bambang Widjojanto Tiba di KPK Disambut Salawat

Bambang Widjojanto muncul di KPK. Setelah sejak Jumat (23/1) pagi dia ditangkap dan menjalani pemeriksaan, di Bareskrim Polri.

Bambang muncul di KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (24/1/2015) pukul 02.10 WIB. Wakil Ketua KPK Adnan Pandu, Deputi Pencegahan KPK Johan Budi, dan Wakil Ketua KPK Zulkarnaen serta pengacara Usman Hamid menemani.


Salawat pun berkumandang saat Bambang menampakkan diri. Gema takbir pun diterikana. Bambang tampak tersenyum melihat massa pendukung KPK.

Bambang ditangguhkan penahanannya dan akan menjalani pemeriksaan pekan depan. Dia masih berstatus tersangka untuk kasus dugaan mengarahkan kesaksian di sidang sengketa Pilkada Kotawaringin Barat, Kalteng.



Pernyataan Lengkap BW Usai Keluar dari Bareskrim Polri

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) keluar dari Bareskrim Polri dini hari ini setelah penahananya ditangguhkan. Ia pun menggelar jumpa pers singkat.

Jumpa pers itu dilakukan di depan Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (24/1/2015) pukul 01.15 WIB dini hari. Ia pun menyampaikan pernyataan di hadapan awak media.


Berikut pernyataan lengkap BW:

Pertama, saya mengucapkan terima kasih kepada semua lapisan masyarakat yang mendukung apa yang sudah dilakukan baik untuk KPK, dan juga, saya mengucapkan terima kasih kepada lembaga kepolisian karena proses pemeriksaannya bisa diselesaikan pada malam ini.

Kedua, masih cukup banyak ada masalah, masih cukup banyak ada tantangan, kita harus tetap merapatkan barisan, menjaga kejernihan pikiran, dan terus menerus meningkatkan kewaspadaan.

Ketiga, semua tantangan-tantangan itu dimaksudkan untuk menjaga republik ini menjadi jauh lebih baik. menjaga supaya pemberantasan korupsi bisa dilakukan dengan baik. Dan juga menjaga supaya lembaga-lembaga penegakan hukum yang ada itu betul-betul bisa berjalan di atas relnya.

Kita harus tetap solid, tetap bersama-sama, jangan sampai dipicu oleh berbagai kepentingan yang justru menyebabkan masalah besar

Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih pada seluruh masyarakat, kepada pers, kepada media sosial, dan seluruh lapisan masyarakat lainnya yang saya tidak bisa sebutkan satu persatu.

Status tersangka, apakah akan mundur dari KPK?
Saya akan mendiskusikan itu dengan pimpinan. karena kalau pakai pasal 31 ayat 1 huruf d dan pasal 31 ayat 2, seseorang pimpinan KPK yang sudah dinyataan sebagai tersangka, dia harus mengundurkan diri. Jadi saya akan membicarakan ini pada pimpinan KPK.

Pemeriksaan seperti apa?
Pemeriksaan awal dimulai sebelum salat Jumat kalau tidak salah ya. Tapi ditutup karena saya belum didampingi lawyer. Setelah itu pemeriksaan selanjutnya dilakukan setelah azhar. Pada saat salat azhar pemeriksaan sudah selesai sebelum maghrib. Ada 8 pertanyaan diajukan, dan setelah itu lebih banyak pada revisi-revisi. Dan menurut kepala unit penyidik yang memeriksa saya, untuk pemeriksaan hari ini sudah selesai. Jika nanti diperlukan pemeriksaan tambahan, maka akan dipanggil, akan dibuat surat panggilan. Surat panggilan itu akan dikirimkan ke kantor KPK.

Tolak menjawab pertanyaan yang diajukan penyidik Bareskrim?
Saya tidak menolak menjawab pertanyaan, tapi saya memberi alasan terhadap pertayaan-pertanyaan itu perlu diklarifikasi beberapa hal, dan itu sudah teknis. Nanti saya memberi kesempatan kepada lawyer-lawyer saya menjelaskan.

Sebenarnya tadi Pak kepala unit menjelaskan kepada kami bahwa ada jaminan dari pimpinan KPK. Jaminan itulah yang dipakai sebagai dasar untuk membuat keputusan bagian dari kebijakan setelah bertemu Pak Plt Polri.

Apakah benar saat penangkapan diborgol?
Faktanya memang begitu.

Yang saya ingin lakukan hari ini adalah untuk jeda dulu. Saya tidak mau membuat pernyataan pernyataan apapun.

Soal alat bukti?
Pasti Polri belum memberikan kepada saya, memberitahukan soal alat bukti itu, dan sebaiknya memang Polri tidak memberitahukan kepada saya.

Soal mulut diplester?
Yang benar begini. Saya sedang diskusi sama anak saya. Proses penangkapan seperti apa, proses peradilannya. Terus ada salah satu 'teman' mengatakan 'ada lakban nggak?' Nah, yang benar seperti itu. Jadi tidak langsung mulut saya diplester.



Keluar dari Tahanan, BW : Terima Kasih Masyarakat dan Polisi

Bambang Widjojanto akhirnya bisa bebas dari tahanan Mabes Polri. Dia mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Wakil ketua KPK itu keluar dari gedung Bareskrim Polri sekitar pukul 01.30 WIB, Sabtu (24/1/2015). Dia berbaju hitam, berbeda dengan pakaian saat ditangkap.


"Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang mendukung apa yang sudah dilakukan, baik untuk KPK saya mengucapkan terima kasih kepada polisi karena proses pemeriksaaannya selesai malam ini," jelas Bambang.

BW juga mengucapkan terima kasih pada media dan para pendukung di media sosial.

Hingga kini, Bambang masih memberikan keterangan pers.



Bambang Widjojanto Bebas

Bambang Widjojanto akhirnya dibebaskan. Dia muncul di depan gedung Bareskrim Polri. Memakai polo shirt hitam, sejumlah pimpinan KPK menemani dia.

Bambang keluar dari ruang Bareskrim, Sabtu (24/1/2015) pukul 01.15 WIB. Di sisi Bambang ada Adnan Pandu, Usman Hamid, dan sejumlah kuasa hukumnya.


Sejumlah petugas kepolisian tampak mengawal pembebasan Bambang. Sebelumnya Bambang sempat ditahan dan tidak akan dibebaskan.

Namun setelah Adnan Pandu menemui Wakapolri Komjen Badrodin, Bambang dibebaskan.



Usai Bertemu Wakapolri Adnan Pandu Diizinkan Bawa Pulang BW

Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja lega. Pertemuannya dengan Komjen Badrodin Haiti membuahkan hasil. Bambang Widjojanto bisa dibawa pulang.

"Pak BW akan pulang malam ini bersama kami, tak ada jaminan apa-apa," jelas Adnan dini hari di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Sabtu (24/1/2015)


"Pemeriksaan sudah selesai, jadi kami tak perlu berikan jaminan apa-apa," tambahnya.

Adnan terus bergegas dari ruang Rupatama Mabes Polri menuju Bareskrim Polri. Dia optimistis penyidik akan memberikan pembebasan.

"Tunggu ya, saya akan ketemu BW dan kita pulang bareng. Dia pemeriksaan akan tetap jalan Minggu depan," tutupnya.



Dua Pimpinan KPK Masuk Ruangan Wakapolri, BW Segera Bebas?

Dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah keluar dari gedung Bareskrim Polri. Namun mereka tampak terburu menuju gedung ruangan Wakapolri Komjen Badrodin Haiti.

Pantauan detikcom, Sabtu (23/1/2015), dua Wakil Pimpinan KPK Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain tampak keluar dari Gedung Bareskrim sekitar pukul 00.23 WIB. Keduanya langsung berjalan terburu ke gedung ruangan Wakapolri.


Namun belum diketahui Wakapolri Komjen Badrodin Haiti telah ada atau tidak di ruangannya‎. Sebab sebelumnya petugas polisi mengatakan Wakapolri telah keluar pukul 20.30 WIB lalu.

Adnan dan Zulkarnain kompak tak memberikan jawaban saat ditanya oleh para wartawan. Hingga pukul 00.35 WIB, keduanya belum tampak keluar.



23.1.15

Pimpinan KPK Diusir Saat Tunggu Wakapolri di Mabes Polri

Rombongan pimpinan KPK dan Komnas HAM malam ini menyambangi Gedung Mabes Polri. Mereka ingin bertemu Wakapolri Komjen Badrodin Haiti. Namun saat menuju Rupatama Mabes Polri, ruangan Komjen Badrodin berada pimpinan KPK dihadang provost dan Brimob.

Tak hanya itu saja, pada Jumat (23/1/2015) malam, saat duduk di tangga rupatama Mabes Polri, Adnan dan Pandu serta pimpinan Komnas HAM diusir.


Mereka pun akhirnya bergerak ke Bareskrim Polri. Adnan mendapat kabar bila Wakapolri Komjen Badrodin sedang menuju ke Mabes Polri.

Di Mabes Polri hadir juga Denny Indrayana, Mas Achmad Santosa, serta mantan pimpinan KPK Chandra M Hamzah. Suasana di Mabes Polri masih ramai.

Bambang diketahui sudah resmi ditahan atas perintah Kabareskrim Irjen Pol Budi Waseso.



Samad Telepon Jenderal Moeldoko Minta Pasukan Pengamanan Tambahan di KPK

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelepon Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko. Ia meminta bantuan pasukan pengamanan tambahan di Gedung KPK malam ini.

Menurut informasi yang diterima detikcom, Samad baru saja menelepon Moeldoko malam ini. Hal soal pengamanan tambahan itu dibenarkan oleh Deputi Pencegahan KPK Johan Budi.


"Jadi memang benar KPK dibackup oleh tim pengamanan yang jumlahnya cukup banyak di luar Polri," kata Johan kepada wartawan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2015) malam.

Pengamanan tambahan ini untuk mengantisipasi. Ada kabar bahwa beberapa petugas Bareskrim Polri akan datang ke KPK untuk menggeledah ruangan kerja BW.



Foto Bambang di Bareskrim Polri, Ada Pesan yang Disampaikan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap pagi tadi di Depok, Jawa Barat dan menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri. Bambang di sela pemeriksaan sempat memimpin salat Isya berjamaah.

Di Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat (23/1/2015) malam, Bambang ditemani pengacaranya. Dia sudah bersalin baju, sebelumnya dia memakai baju gamis karena habis salat subuh dan mengantarkan anaknya bersekolah di SD IT Nurul Fikri, Depok.


Bambang yang memakai kemeja polo shirt dan peci tampak rileks. Dia berbincang dengan sejumlah pengacara dan teman-temannya.

Menurut pengacaranya Usman Hamid, Bambang juga sempat menyampaikan sejumlah pesan untuk masyarakat, berikut pesannya:

1) Terima kasih untuk semua dukungan warga masyarakat, termasuk warga yang bersuara di media sosial serta para penandatangan petisi Change.org.
2) Tantangan masih berat dan masih panjang berjalannya, mari kita rapatkan barisan.
3) Kita harus solid karena ternyata banyak agenda politik yang ternyata tak sesuai kepentingan penegakan hukum.



Abraham Samad dan Para Tokoh Pendukung KPK Bertolak ke Bareskrim Polri

Ketua KPK Abraham Samad bertolak ke Bareskrim Polri. Dia pergi bersama para tokoh pendukung KPK dan para mantan pimpinan lembaga itu.

Lima mobil bergerak dari pintu samping KPK sekitar pukul 21.30 WIB, Jumat (23/1/2015). Samad berada di salah satu mobil itu.


Di mobil lainnya ada mantan pimpinan KPK Chandra Hamzah dan Busyro Muqoddas. Ada pula para tokoh pendukung KPK seperti Todung Mulya Lubis, Imam Prasodjo dan Mas Ahmad Santosa.

Rencananya mereka akan menjenguk Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto yang tengah ditahan diperiksa di Bareskrim Polri. BW, begitu dia biasa disapa, ditangkap pagi tadi untuk diperiksa sebagai tersangka kasus perintah pemberian keterngan palsu dalam sidang di MK pada 2010.



Di Sela Pemeriksaan Bambang Widjojanto Jadi Imam Salat Isya

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri. Bambang sudah berganti baju dari saat dia ditangkap. Saat ditangkap dia memakai gamis, kini dia sudah salin dan memakai polo shirt, namun tetap memakai peci.

Di sela pemeriksaan, Jumat (23/1/2015) pukul 19.30 WIB, Bambang sempat menjalankan salat Isya. Bersama kuasa hukumnya dan teman-temannya, Iskandar Sonhaji, Usman Hamid, Nur Kholis serta beberapa yang lain dia menjadi imam.


Di ruangan di Bareskrim, Bambang memimpin salat. Setelah salat dia berzikir.

Bambang diperiksa di Bareskrim sejak pagi tadi. Dia ditangkap dan diborgol usai mengantar anaknya yang SD sekolah di SD IT Nurul Fikri, Depok.

Bambang diborgol dan langsung dibawa menuju Bareskrim Polri. Dia ditangkap atas laporan Anggota DPR dari PDIP Sugianto Sabran. Bambang dikenai pasal 242 dengan tudingan mempengaruhi saksi di sengketa Pilkada Kota Waringin Barat pada 2010 lalu saat menjadi pengacara.



Massa Pro-KPK Tuntut Polri Bebaskan BW Paling Lambat Pukul 21.00 WIB

Sejumlah tokoh yang bergabung dengan massa pro-KPK kembali berorasi di Gedung KPK. Eks Komisioner KPK Busyro Muqoddas menuntut Mabes Polri membebaskan Bambang Widjojanto malam ini.

"Kepada Mabes Polri, jam 21.00 WIB kami tuntut supaya rekan kami Bambang Widjojanto segera dikeluarkan dari proses penahanan," kata Busyro dengan berapi-api di lobi Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2015) pukul 20.50 WIB.


Busyro berorasi didampingi oleh Abraham Samad, Imam Prasodjo, Todung Mulya Lubis, Mas Achmad Santosa, dan Chandra Hamzah dan banyak lagi. Selain menuntut pembebasan Bambang Widjojanto, Busyro juga mengingatkan kekuatan rakyat yang akan dihadapi Mabes Polri yang mendukung KPK.

"Terima kasih kepada teman-teman semua, modal kita hanyalah rakyat, dan kekuatan langit, serta kekuatan Illahi," ujar Busyro yang datang dari tempat tinggalnya di Yogyakarta.

Massa pro-KPK juga mengajak masyarakat untuk datang dan ikut menjaga KPK. Massa mengajak masyarakat menjaga agar tak ada satu pun dokumen KPK yang diambil oleh penyidik Polri yang telah menjadikan BW tersangka atas kasus yang terjadi 5 tahun silam.



Komisioner Komnas HAM Sambangi Mabes Polri Tuntut BW Dibebaskan

4 Orang Komisioner Komnas HAM mendatangi Mabes Polri. Mereka menyatakan keprihatinannya atas penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto yang dinilai tidak manusiawi.

"Kami hadir ingin tunjukan ke masyarakat luas, Komnas HAM prihatin atas situasi ini. Kami ingin sampaikan KPK harus diperkuat, jangan dilemahkan dengan upaya tidak sesuai norma kepatutan hukum dan HAM," kata Ketua Komnas HAM, Hafid Abbas di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2015).


Hafid mengatakan, proses penangkapan BW yang menurutnya tidak sesuai norma tersebut menjadi indikasi mencederai proses demokrasi. Para komisioner Komnas HAM juga menuntut agar BW segera dibebaskan.

"Kami bersama teman-teman minta ke Mabes Polri agar Bapak Bambang Widjojanto bisa dibebaskan. Nanti kami lihat, kami ingin temui dulu," tuturnya.

Komnas HAM, kata Hafid, tidak menyoroti kasus yang dituduhkan oleh Mabes Polri kepada BW. Namun menyayangkan adanya tekanan verbal yang diterima BW.

"Dari pihak Pak Bambang merasa ada kekerasan yang beliau alami. Pas diperiksa ditangkap di dalam mobil beliau bicara sama anaknya, polisi bilang, ada lakban nggak?" kata komisioner Komnas HAM, Sandra Moniaga.

Menurut informasi yang ia terima, penyidik juga memberikan pertanyaan yang tidak relevan kepada anak BW saat berada di dalam mobil. Pertanyaan tersebut antara lain menanyakan sang anak kelas berapa dan berapa usianya.

"Ada banyak masalah kan?" katanya sambil menuju ke ruang Bareskrim Mabes Polri bersama Komisioner Komnas HAM yang lain.



Ketua KPK: Pak BW Sudah Punya Firasat Akan Dikriminalisasikan

Ketua KPK Abraham Samad mengatakan dirinya sempat bersama-sama dengan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) pada Kamis malam sebelum Jumat paginya ditangkap oleh Bareskrim Polri. Dalam kesempatan itu, BW mengatakan dirinya sudah punya firasat akan dikriminalisasikan.

"Pak BW bilang ke saya, mungkin ini hari-hari terakhir kita," ujar Samad saat jumpa pers di Gedung KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2015).


Samad melanjutkan, BW bahkan sudah menganalisis bahwa dia akan dijadikan target untuk dikriminalisasi. Sebab belakangan Samad sudah dua kali 'diserang'.

"Dia punya firasat bilang ke saya, 'Antum kan udah dua kali diserang, dan saya belum. Jadi ini mungkin sekarang ini giliran saya'. Kata Pak BW," terang Samad.

"Dia bilang, kalau dia mau dikriminalisasikan lewat kasus ini. Jadi dia sudah ngomong semalam sama saya," tambah Samad yang di menit awal memberikan keterangan pers tampak emosional dengan menitikkan airmata dan suara tercekat. Samad didampingi oleh Deputi Pencegahan KPK Johan Budi, para mantan pimpinan KPK dan pegiat anti korupsi.



Sugianto Sabran, Politikus PDIP yang Melaporkan BW ke Polisi

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap Bareskrim Polri atas laporan Sugianto Sabran, eks calon Bupati Kotawaringin Barat yang kalah di Mahkamah Konstitusi. Siapa sebenarnya Sugianto?

Sugianto adalah politikus PDIP yang pernah menjadi anggota DPR periode 2009-2014. Wajahnya sempat mondar-mandir muncul di infotainment saat pernikahannya dengan artis Ussy Sulistiyowati berakhir.


Di Kotawaringin, Sugianto dikenal sebagai pengusaha lokal yang sukses. Terkait usahanya dia pernah terjerat kasus illegal logging di awal tahun 2006.

Tahun 2009, Sugianto maju sebagai caleg DPR RI 2009-2014. Dia maju lewat PDIP. Di DPR, Sugianto duduk di Komisi IV DPR yang mengurusi masalah kehutanan, pertanian, pangan.

Pada 2010, Sugianto maju di Pemilukada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, berpasangan dengan Eko Soemarno. Hanya ada dua pasang calon di pemilukada itu. Lawan Sugianto saat itu adalah Bupati incumbent Ujang Iskandar yang berpasangan dengan Bambang Purwanto.

Sugianto memenangkan pemungutan suara Bupati Kotawaringin pada Juni 2010. Namun kemenangannya digugat oleh Ujang Iskandar ke Mahkamah Konstitusi (MK). Ujang menggandeng Bambang Widjojanto sebagai pengacara.

Setelah melalui proses pengadilan, MK lalu menganulir kemenangan Sugianto dan memenangkan Ujang. Setelah proses pengadilan di MK selesai, kubu Sugianto melaporkan seorang saksi bernama Ratna atas tuduhan keterangan palsu. Ratna divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, lalu dipenjara selama 5 bulan.

Kelanjutan kasus Ratna itulah yang dijadikan dasar oleh Polri untuk menangkap Bambang Widjojanto. Bambang dianggap mengarahkan Ratna untuk memberi kesaksian palsu. Ujang sudah membantah anggapan itu. Dia menegaskan Ratna tak terkait dengan Bambang.

Kembali ke Sugianto, setelah gagal jadi Bupati Kotawaringin Barat, dia lalu mencalonkan diri menjadi caleg di Pemilu 2014, masih dari PDIP, namun gagal kembali ke Senayan.

Sugianto sudah coba dihubungi. Namun mesin penjawab mengatakan nomor miliknya sedang memblokir semua panggilan.



Kabareskrim : Kami Punya Bukti dan Bisa Menangkap Bambang Widjojanto

Kabareskrim Irjen Budi Waseso menyampaikan penjelasan soal penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Menurut Budi, Mabes Polri punya bukti kuat untuk melakukan penangkapan, tanpa perlu memanggil untuk pemeriksaan.

"Iya itu mekanisme penyidikan. Bisa saja dilakukan seperti itu," jelas Budi di Istana Bogor usai bertemu Presiden Jokowi, Jumat (23/1/2015).


Budi menegaskan, pihaknya yakin dengan bukti bahwa Bambang terlibat kasus mengarahkan saksi palsu dalam sidang sengketa Pilkada di MK Kotawaringin Barat pada 2010 lalu.

"Ya kan kami punya alat bukti baru. Bisa saja melakukan penangkapan," tambahnya.

Apa buktinya? "Ada di penyidik kami," tutup dia.



Wakapolri : Bambang Widjojanto Tidak akan Ditahan

Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti memastikan Wakil Ketua Bambang Widjojanto tak akan ditahan. Bambang hanya akan diperiksa.

"Ada kesepakatan dengan pimpinan KPK selesai dilakukan pemeriksaan, penyidik tidak melakukan penahanan," kata Badrodin saat ditemui di Istana Bogor, Jabar, Jumat (23/1/2015).


Menurut Badrodin, kasus ini digarap berdasarkan laporan dari anggota Fraksi PDI Perjuangan Sugianto Sabran. Dia menegaskan, memiliki tiga alat bukti.

Terkait penangkapan Bambang yang dinilai dengan cara-cara 'kasar', Badrodin tak mau berkomentar banyak. Dia hanya menegaskan, itu adalah bagian dari teknis penyidikan.



Nursyahbani Katjasungkana : BW Sehat dan Baca Alquran

Tim Hukum Penyelamat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat bertemu dengan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto selama 5 menit. Kondisi Bambang dipastikan sehat.

"(Bambang) sehat dan baca Alquran," kata anggota Tim Hukum Penyelamat KPK Nursyahbani Katjasungkana di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2015).


Bambang ditetapkan sebagai tersangka karena diduga mengarahkan sejumlah saksi untuk memberikan keterangan palsu di persidangan MK. Polisi menyebut, penyidikan ini bermula dari laporan masyarakat yang diterima Bareskrim Polri pada 15 Januari 2015.

Seolah melihat ini adalah kasus prioritas, Mabes Polri langsung melakukan penyelidikan dan meningkatkan kasus menjadi penyidikan. Bambang dijadikan tersangka dengan sangkaan pasal 242 juncto pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara. Saat ini Bambang menjalani pemeriksaan di Bareskrim.



Keterangan Pers Presiden Atas Penangkapan Bambang Widjojanto

Presiden Jokowi menyampaikan sikap terkait penangkapan Bambang Widjojanto. Jokowi hanya berkomentar normatif agar baik KPK maupun Polri harus menjalankan hukum sesuai aturan.

"Baru saja tadi saya telah melakukan pertemuan dengan Wapres, Menkopolhukam, Jaksa Agung, dan beberapa menteri serta dengan Ketua KPK dan Kapolri, Wakapolri," tutur Jokowi di Istana Bogor, Jumat (23/1/2015).


Dalam jumpa pers, Jokowi didampingi Ketua KPK Abraham Samad, Wapres JK, Menko Polhukam Tedjo Edhy, Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan.

Berikut keterangan lengkap Jokowi:

Dan tadi saya sampaikan terutama pada Ketua KPK dan Wakapolri, sebagai kepala negara saya meminta pada institusi Polri dan KPK, memastikan bahwa proses hukum yang ada harus obyektif dan sesuai dengan aturan UU yang ada.

Tadi saya juga meminta, sebagai Kepala Negara, agar institusi Polri dan KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas masing-masing.

2 hal itu tadi yang saya sampaikan dan kita berharap semuanya juga, media, terutama, menyampaikan hal-hal yang obyektif.

Saya kira itu yang bisa kita sampaikan.



Mabes Polri : Bambang Widjojanto Masih Diperiksa

Mabes Polri memastikan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto tak akan dilepaskan siang ini. Bambang masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik Bareskrim Polri.

"Kata siapa mau dibebaskan? Ini masih diperiksa penyidik," terang Karo Penmas Mabes Polri Kombes Pol Rikwanto, Jumat (23/1/2015) pukul 15.00 WIB.


Menurut Rikwanto penyidik masih menggali keterangan dari Bambang terkait kasus dugaan mengarahkan saksi memberikan keterangan palsu dalam kasus sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalteng di MK pada 2010 lalu. Pelaporan kasus ini dilakukan 15 Januari 2015 lalu oleh anggota DPR asal PDIP Sugiyanto Sabran.

Rikwanto juga menyangkal kalau penyidik akan melakukan penggeledahan di KPK dan menyita sejumlah dokumen.

"Nggak ada," tegas Rikwanto.



Saksi : BW Diborgol Lalu Dimasukkan Mobil Polisi

Polisi menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto di Jl Komplek Timah, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, seusai mengantar anaknya bersekolah di SD pagi tadi. Polisi memborgol kedua tangan Bambang ke depan lalu memasukkan ke mobil polisi.

"Kejadiannya sekitar pukul 07.30 WIB, lalu lintas saat itu sedang padat," kata Arta, penjaga toko kelontong di Jalan Komplek Timah, kepada detikcom, Jumat (23/1/2015). Menurut Arta, kejadian itu menarik perhatian orang-orang yang berada di kawasan itu. Apalagi jumlah polisi sangat banyak.


Lokasi penangkapan Bambang ini berjarak sekitar 200 meter dari gerbang SDIT Nurul Fikri, lokasi tempat anak BW sekolah.

"Dia diborgol di bagian depan, kemudian bersama seorang wanita berkerudung dibawa masuk ke dalam mobil polisi. Mobil yang dipakainya dibawa juga sama petugas," katanya. Wanita berkerudung yang dimaksud saksi adalah Izzat, anak kedua BW yang berusia 20 tahun. Saat ini Izzat telah dipulangkan.

Mabes Polri menangkap Bambang sebagai tersangka mengarahkan saksi memberikan keterangan palsu dalam sengketa Pilkada Kotawaringin Barat di MK pada 2015. Mabes Polri berdalih, laporan itu disampaikan ke polisi pada 15 Januari 2015.



Pimpinan KPK Meluncur ke Istana Bogor Dikawal 2 Mobil Paspampres

Pimpinan KPK Abraham Samad, Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain meluncur ke Istana Bogor. Mereka naik kendaraan sambil dikawal dua mobil Mercy Paspampres.

Rombongan berangkat sekitar pukul 13.55 WIB dari Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Jumat (23/1/2015). Adnan, Abraham dan Zulkarnain naik mobil APV dan sebuah mobil lainnya.


Di depan dan belakang mobil tersebut, ada dua mobil Paspampres Mercy. Mereka meluncur ka arah tol Dalam Kota.

Para pimpinan KPK memang dijadwalkan bertemu presiden Jokowi siang ini di Istana Bogor. Pertemuan membahas penangkapan Bambang Widjojanto.



Wakapolri dan Jaksa Agung Merapat ke Istana Bogor

Hubungan antara Polri dan KPK kembali memanas setelah Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap Bareskrim Polri. Penangkapan Bambang disebut Polri terkait dengan sengketa Pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Pantauan di Istana Bogor, Jl H Juanda, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/1/2015) Wakapolri Komjen Badrodin Haiti dan Jaksa Agung Prasetyo merapat. Keduanya menunggu di ruang transit yang sebelumnya dimasuki Seskab Andi Widjajanto.


Presiden Jokowi diagendakan akan menggelar jumpa pers terkait penangkapan ini. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Presiden terkait hubungan antara kedua penegak hukum ini.

Hadir pula di Istana Bogor Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Mendagri Tjahjo Kumolo, Mensesneg Pratikno, dan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan. Kabarnya KPK pun akan merapat ke Istana Bogor.

"Nanti saja," ucap Tedjo ketika diwawancarai.



Din Syamsuddin: Penangkapan BW Ada Nuansa Balas Dendam

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsuddin berpendapat penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto (BW) oleh polisi ada nuansa dendam. Dia mengaku prihatin permusuhan dua lembaga penegak hukum tersebut.

"Susah untuk tidak dilihat ada nuansa dendam," kata Din Syamsuddin menjawab pertanyaan wartawan seusai bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedong Wilis, Kepatihan Yogyakarta, Jumat (23/1/2015).


Kemudian, lanjut dia, hal ini ditambah mengenai pencalonan Abraham Samad menjadi calon wapres dari PDIP. "Ini jadi liar semua. Ini ego-ego dari politisi. Sebagai tokoh agama hanya bisa menyampaikan pesan moral saja. Nggak lebih dari itu," katanya.

Din menambahkan dirinya mengaku secara terus terang tidak bisa menyembunyikan keprihatinan yang mendalam atas perkembangan kehidupan kebangsaan saat ini dengan menampilkan saling serang diantara beberapa kelompok bahkan antar lembaga negara. Mereka saling cari-cari kesalahan seperti KPK, Polri kemudian ada unsur PDIP.

"Ini bagi saya itu tidak positif. Sungguh merupakan hal yang tidak positif," katanya.

Din menambahkan kasus sekarang ini tidak lepas dari keputusan KPK yang menjadikan Budi Gunawan menjadi tersangka. Dia mengkhawatirkan setelah ini akan ada aksi dan reaksi. Hal ini menjadi tidak positif. Demikian pula dengan KPK yang salah timing dengan menjadikan tersangka. Sedangkan yang bersangkutan juga jadi calon kapolri

"Kalau sudah begini sekarang jadi tidak jernih. Saya tidak membela siapa-siapa, lembaga-lembaga mana. Harus sesuai kewenangan tapi harus dengan sikap yang jernih, motif yang benar dan tulus. Bukan benci dan dendam," pungkas dia.



Adnan Pandu KPK: Bambang Disergap Bak Teroris Saat Antar Anak

KPK menyoal penangkapan Wakil ketua KPK Bambang Widjojanto yang disergap penyidik Bareskrim Polri saat mengantar anak. Bambang bak teroris disergap tiba-tiba.

"Kalau prosedur lewat pemanggilan, seperti itu," jelas Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat (23/1/2015).



Menurut Adnan, bila di KPK penangkapan dengan penyergapan hanya dilakukan pada kasus operasi tangkap tangan pada koruptor.

"Kalau di Polri kasus teroris, seperti itu," tutur Adnan.

Penangkapan dilakukan pagi ini pukul 07.30 WIB. Bambang ditangkap saat mengantar anaknya ke sekolah. Sang anak pun menyaksikan ayahnya diborgol.

Mabes Polri menangkap Bambang terkait dugaan kasus mengarahkan saksi agar menyampaikan kesaksian palsu dalam Pilkada Kotawaringin Barat pada 2010 dalam sidang Pilkada di MK. Pelaporan dilakukan pada 15 Januari lalu oleh sekelompok masyarakat.



DPR Ajak Jokowi Rapatkan Penyelamatan KPK

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengusulkan ada rapat konsultasi antara pimpinan DPR dengan Presiden Jokowi dalam waktu dekat. Pertemuan ini perlu digagas dalam rangka penyelamatan KPK.

"Dalam kaitan situasi saat ini kami harapkan semacam pertemuan informal yang dipimpin langsung Pak Presiden Joko Widodo karena ini menyangkut krisis kepemimpinan KPK karena Pak Busyro periodenya baru saja berakhir jadi pada hari ini pimpinan KPK tinggal 3. Ini dalam rangka menyelamatkan KPK," kata Taufik Kurniawan kepada detikcom, Jumat (23/1/2015).


Rapat paripurna DPR terakhir memang memutuskan pemilihan pimpinan KPK dilakukan bersamaan atau satu paket pada akhir tahun 2015 mendatang. Karena itu pimpinan KPK akan berjumlah 4 orang sampai akhir tahun. Namun setelah Polri menangkap Bambang Widjojanto maka pimpinan KPK tinggal tersisa 3 orang.

"Karena itu perlu ada forum informal antara Presiden dan pimpinan DPR untuk membahas penyelamatan KPK. Jadi kita tidak mengintervensi penegakan hukum tetap kita mencari langkah untuk menyelamatkan KPK," kata Taufik.

Bambang Widjojanto ditangkap Bareskrim Polri pagi tadi saat hendak mengantar anaknya sekolah. Bambang ditangkap terkait kasus keterangan palsu dalam sengketa pilkada di tahun 2010 tersebut. Bambang terancam 7 tahun penjara.

"Pasal 242 juncto pasal 55 KUHP," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Ronny Sompie kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, pukul 11.00 WIB.

Ronny menjelaskan pasal itu terkait dengan pemberian keterangan palsu di depan sidang Mahkamah Konstitusi untuk sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. "Menyuruh melakukan atau memberikan keterangan palsu di depan sidang pengadilan, yaitu pengadilan Mahkamah Konstitusi," ujar Ronny.

"Ancamannya 7 tahun penjara. Dan saat ini sedang dilakukan pemeriksaan," imbuhnya.

Di saat KPK seperti dalam kepungan, aksi #SaveKPK terus meluas. Siang nanti para tokoh pro KPK akan berkumpul di Gedung KPK di Jl HR Rasuna Said. Selamatkan KPK!



Pasal yang Digunakan Polri untuk Menjerat BW, Ancaman Penjara 7 Tahun

Setelah sempat disangkal Wakapolri Komjen Badrodin Haiti, akhirnya Mabes Polri mengakui bahwa Bareskrim telah menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Bambang ditangkap terkait kasus keterangan palsu dalam sengketa pilkada di tahun 2010. Bambang terancam 7 tahun penjara.

"Pasal 242 juncto pasal 55 KUHP," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Ronny Sompie kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat (23/1/2015).


Ronny menjelaskan pasal itu terkait dengan pemberian keterangan palsu di depan sidang Mahkamah Konstitusi untuk sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

"Menyuruh melakukan atau memberikan keterangan palsu di depan sidang pengadilan, yaitu pengadilan Mahkamah Konstitusi," ujar Ronny.

"Ancamannya 7 tahun penjara. Dan saat ini sedang dilakukan pemeriksaan," imbuhnya.

Berikut bunyi pasal 242 KUHP:

(1) Barang siapa dalam keadaan di mana undang-undang menentukan supaya memberi keterangan di atas sumpah atau mengadakan akibat hukum kepada keterangan yang demikian, dengan sengaja memberi keterangan palsu di atas sumpah, baik dengan lisan atau tulisan, secara pribadi maupun oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(2) Jika keterangan palsu di atas sumpah diberikan dalam perkara pidana dan merugikan terdakwa atau tersangka, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

(3) Disamakan dengan sumpah adalah janji atau penguatan yang diharuskan menurut aturan-aturan umum atau yang menjadi pengganti sumpah.

(4) Pidana pencabutan hak berdasarkan pasal 35 No. 1 – 4 dapat dijatuhkan.



Polri: Bambang Widjojanto Ditangkap Atas Kasus Saksi Palsu Sidang di MK

Mabes Polri mengakui penangkapan atas Bambang Widjojanto. Penangkapan dilakukan terkait dugaan saksi palsu terkait sidang Pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK) di Kotawaringin Barat. Sidang Pilkada pada 2010.

"Maka Bareskrim melakukan penangkapan terhadap BW," jelas Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F Sompie di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat (23/1/2015).


Menurut dia, pihak Mabes Polri menemukan sejumlah bukti kuat bahwa Bambang melakukan dugaan pidana yang dimaksud. Penangkapan dilakukan pagi tadi.

"Barang bukti yang ditemukan penyidik berupa dokumen, saksi yang diperiks, dan ahli," tutur dia.



Penjelasan Resmi KPK Soal Penangkapan Bambang Widjojanto

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap orang yang mengaku personel Bareskrim Polri pagi ini. Namun Wakapolri Komjen Badrodin Haiti mengaku tak tahu menahu soal penangkapan itu. KPK terus mengumpulkan informasi.

Lewat akun twitter @KPK_RI, KPK memberi pernyataan resmi soal penangkapan Bambang Widjojanto. Berikut pernyataan resmi KPK yang dikutip detikcom, Jumat (23/1/2015):


1. Ajudan BW menyampaikan kabar bahwa BW dijemput orang yang mengaku dari Bareskrim Polri setelah mengantar anaknya sekolah, pagi ini.

2. Pihak KPK sudah menghubungi Plt Kapolri Badrodin Haiti, menanyakan hal ini dan dijawab tidak benar ada penangkapan oleh Bareskrim.

3. Saat ini KPK sedang kumpulkan informasi lanjutan terkait penangkapan ini.

Ponsel BW hingga kini belum bisa dihubungi, termasuk oleh Deputi Pencegahan KPK Johan Budi.



Ponsel Bambang Widjojanto Masih Tak Bisa Dihubungi

KPK mendapat kabar dari ajudan bahwa Komisioner Bambang Widjojanto ditangkap pria dari Bareskrim. Hingga kini, ponsel BW tak bisa dihubungi.

"Saya coba kontak handphone beliau sampai tadi belum tersambung," kata Deputi Pencegahan KPK Johan Budi saat dikonfirmasi, Jumat (23/1/2015).


Hingga kini, belum jelas siapa yang melakukan penangkapan terhadap BW. Wakapolri Komjen Badrodin Haiti membantah kabar itu.

"Lantas siapa yang menangkap?" tanya Johan.

KPK sudah mengirim tim ke Bareskrim Polri untuk menanyakan kabar tersebut. Namun belum ada jawaban pasti hingga kini.



Pendukung Berkumpul di Kantor KPK Siang Ini

Para warga ikut merespons penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Polri. Mereka menyampaikan dukungan untuk KPK dan berencana datang bersama-sama ke kantor KPK siang ini.

Aktivis Indonesian Corruption Watch (ICW) Donal Fariz memberikan dukungan penuh kepada KPK. Melalui twitternya dia mengajak rakyat untuk berkumpul di KPK.


"SOS #SAVEKPK... MERAPAT KE KPK SEMUA YG PEDULI PEMBERTASAN KORUPSI". tulis twitter @donalfariz.

Selain itu, ada juga dukungan dari aktivis Ulin Yusron. Dia mengingatkan kembali soal kasus cicak vs buaya dulu. Sepenuh hati dia menyampaikan dukungannya untuk selamatkan KPK.

"Semut rangrang, cicak bergerak semua. Kita kumpul secepatnya di @KPK_RI. SOS serangan koruptor!" tulis Ulin di twitternya.

Akun resmi Gerakan Anti Korupsi Indonesia (Gakin) Provinsi Lampung @gakinlampung juga ikut bersuara.
"Yuk !!! SaveKPK kumpul hbs jumat di kantor @kpk-ri," tulisnya.

Selain ajakan ke KPK ada juga dukungan dari para netizen berupa #SaveKPK yang langsung menjadi trending topic twitter.



Tim KPK ke Mabes Polri Tanyakan Soal Penangkapan Bambang

KPK telah mengirimkan tim menuju Mabes Polri untuk menggali informasi soal penangkapan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Mabes Polri. Pasalnya, hingga saat ini belum diketahui kenapa Bambang ditangkap.

"Tim sudah dikirimkan ke Mabes Polri," kata Deputi Pencegahan KPK, Johan Budi, Jumat (23/1/2015).


Johan mengungkapkan, pihak KPK sudah berusaha menghubungi pihak Mabes Polri. Namun, Wakapolri Komjen Badrodin Haiti mengaku tak ada informasi soal penangkapan Bambang.

Kabareskrim Budi Waseso yang sudah coba dihubungi pihak KPK belum memberikan jawaban.



Saat Ditangkap Bambang Tanpa Didampingi Ajudan

Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto ditangkap Bareskrim Mabes Polri tanpa alasan yang jelas. Saat ditangkap, Bambang tak didampingi ajudannya.

Informasi yang didapat, Jumat (23/1/2015), Bambang ditangkap sekitar pukul 9.00 WIB saat mengantarkan anaknya ke sekolah. Saat itu, ada petugas yang mengaku berasal dari Bareskrim Mabes Polri yang langsung menangkap Bambang.


Saat itu, Bambang hanya sendirian, tanpa didampingi sang ajudan. Tanpa perlawanan, Bambang langsung dibawa ke Bareskrim.

Deputi Pencegahan KPK, Johan Budi membenarkan adanya penangkapan itu. Namun, setelah dikonfirmasi ke Mabes Polri, Wakapolri Komjen Badrodin Haiti mengaku tak ada penangkapan Bambang Widjojanto.

"Saya sudah mengontak pak Wakapolri, dan beliau mengungkapkan bahwa tidak ada penangkapan," jelas Johan.



Wakapolri : Tidak Ada Penangkapan Bambang Widjojanto

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto pagi ini ditangkap oleh Bareskrim Polri. Menko Polhukam Tedjo Edhy belum mengetahui soal penangkapan tersebut.

"Belum tahu. Tadi saya telepon Wakapolri tidak ada itu," ujar Tedjo saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (23/1/2015).


Tedjo enggan bicara lebih jauh soal penangkapan tersebut. Yang jelas dia memastikan tidak ada penangkapan itu.

"Kalau Wakapolri bilang nggak ada, gimana?" katanya.



Bareskrim Mabes Polri Tangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto

Pihak Bareskrim Mabes Polri menangkap Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto. Belum diketahui apa yang menyebabkan Bambang ditangkap.

"Iya tadi dibawa oleh Bareskrim Mabes Polri. Mungkin sekarang posisinya di Bareskrim," kata Deputi Pencegahan KPK, Johan Budi, Jumat (23/1/2015).


Bambang ditangkap saat mengantar anaknya ke sekolah. Namun, hingga saat ini belum diketahui apa penyebab Bareskrim menangkap Bambang.

"Belum ada keterangan ditangkap karena kasus apa," jelas Johan.



12.1.15

KNKT akan Keringkan dan Download FDR Air Asia

Flight Data Recorder (FDR) AirAsia QZ8501 telah tiba di Kantor Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Jakarta. Setelah itu, FDR akan langsung diproses untuk dibaca.

"Mudah-mudahan cepat, kalau normal setelah kering semua, 3 jam download selesai. Untuk mengetahuinya, tergantung apa isinya. Masalahnya kompleks di sana," terang Masruri di Kantor KNKT di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Senin (12/1/2015).

Masruri mengatakan, selama ini KNKT paling cepat melaporkan hasil kecelakaan pesawat memakan waktu 7 bulan.

"Laporan KNKT tercepat selama 7 bulan investigasi sampai final report itu terhadap Sukhoi. Kami ingin yang realistik saja," terangnya.

Masruri mengatakan, untuk melakukan investigasi, KNKT melakukannya sendiri. Namun, Pemerintah Rusia akan memberikan bantuan bila diminta.

"Rusia support untuk frame, apabila kita butuh data wajib, mereka berikan," tutup Masruri.



Panglima TNI Yakin Korban di Badan Pesawat Segera Ditemukan

Proses pencarian terkait jatuhnya QZ8501 hari ini mendapatkan progres besar dengan ditemukannya black box. Panglima TNI Jenderal Moeldoko yakin capaian selanjutnya yakni penemuan main body pesawat tersebut, bisa segera terlaksana.

"Ada 81 orang penyelam yang siap sedia di KRI Banda Aceh. Semoga apa yang kita inginkan itu bisa segera ketemu," ujar Moeldoko dalam konferensi pers di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Senin (12/1/2015).

Moeldoko mengatakan, selama ini main body QZ8501 memang menjadi prioritas pencarian. Bagian tersebut penting, karena diduga kuat di dalamnya ada puluhan korban yang masih terjebak.

"Itulah mengapa main body menjadi prioritas," ujar Moeldoko yang didampingi Ketua KNKT Tatang Kurniadi.

AirAsia QZ8501 itu mengangkut 155 penumpang dan tujuh awak. Sampai saat ini baru 48 korban yang berhasil ditemukan, yang mayoritas di antaranya mengapung. Sedangkan kotak hitam yang telah diangkat dari kedalaman laut adalah bagian FDR. Sedangkan CVR posisinya telah diketahui, tinggal mengangkat saja. Dari kedua peranti ini akan diketahui penyebab pesawat itu celaka pada 28 Desember 2014 silam.



CVR QZ8501 Sudah Terlihat, Tertimpa Sayap Pesawat

Penyelam TNI AL hari ini berhasil mengangkat Flight Data Recorder (FDR) Pesawat AirAsia QZ-8501. Satu bagian black box lainnya, Cockpit Voice Recorder (CVR) posisinya sudah terlihat dan tertimpa sayap pesawat.

"CVR sebenarnya letaknya tidak jauh dari FDR, menurut perkiraan (jaraknya) 20 meter, tertimpa wing pesawat sehingga sangat berat, mustinya menggunakan lifting bag, mudah-mudahan besok bisa diangkat," ujar Direktur Operasional Basarnas Marsma SB Supriyadi.

Hal tersebut diungkap Supriyadi di Posko Gabungan SAR di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalteng, Senin (12/1/2015). Posisi CVR diketahui dan dilihat langsung oleh para penyelam.

"Para penyelam sudah mengetahui pastinya. Sudah melihat langsung.
Kita mencari juga letak dari main body, karena harapan kita di main body itu masih bisa kita temukan korban yang tertinggal di dalamnya," kata Supriyadi.

"Mudah-mudahan, dengan kondisi yang sudah terpisah masih ada sit yang mayoritas masih ada jenazah penumpangnya. Prioritas tim yang lagi nyari. Kapal-kapal BPPT, Jadayat, GeoSurvey, termasuk KN Pacitan," sambungnya.

Kapal-kapal ini akan mengitari posisi area pencarian dan menjadi konsentrasi semua tim. Koordinasi dari kapal Jadayat ke KRI Banda Aceh, termasuk KN Pacitan.

"Mereka gotong royong untuk menemukan. Sayap yang menindih (CVR) cukup berat karena sayap adalah tangki. Warnanya oranye," tutup Supriyadi.

FDR yang telah berhasil dievakuasi telah dibawa oleh KNKT untuk diteliti lebih lanjut. Panglima TNI Jenderal Moeldoko 'mengawal' FDR yang dibawa dari Pangkalan Bun dengan Pesawat Boeing-737 VIP dan kini telah tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta



FDR Black Box Air Asia QZ8501 Sudah DIangkat

Merdeka.com - Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya FHB Soelistyo mengatakan bagian dari black box milik pesawat AirAsia QZ8501 telah diangkat oleh pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Soelistyo menambahkan, bagian black box yang bernama Flight Data Recorder (FDR) itu diangkat pukul 07.11 WIB hari ini, (12/1).

"Saya dapatkan laporan resmi dari Ketua KNKT, Pukul 07.11 WIB berhasil diangkat bagian dari black box disebut FDE (Flight Data Recorder). Di sekitar objek 16 itu dikonfirm karena barang atau benda itu ada plat number 2100-4043-02
dan serial number 000556583," kata Soelistyo di Kantor Basarnas Jakarta, Senin (12/1).

Pengangkatan bagian pesawat yang selama ini dicari itu, dilakukan oleh satuan penyelam TNI Angkatan Laut.

"Kapten Saiful, Pelda Bambang, Serda Rajab, Kopda Edi Susanto," tambah Soelistyo.

Soelistyo menjelaskan, black box pesawat pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yakni FDR dan CVR (Cokpit Data Recorder). Dan hingga saat ini, menurut Soelistyo, tim operasi gabungan masih mencari keberdaan CVR tersebut.

"Yang masih diupayakan cockpit voice recoreder (CVR). Tugas utama mencari cockpit voice recorder," pungkasnya.